Sejarah sebelum nama Cijulang ada, daerah ini terbagi menjadi 2 (dua) yaitu, Kampung Babakan Jawa (dari Aula dan Kantor Desa ke Utara) dan Kampung Pukes (dari Rumah Mantan Kuwu H. Amir ke Selatan). Wilayah tersebut merupakan areal pertanian yang luas dan subur, adapun Kalungguhan ditanami tebu (Blok Bunut).
Sebagian masyarakatnya masih mengaplikasikan paham Hindu dengan mempercayai kebendaan yang tidak berdaya, namun saat itu para Ulama peka terhadap lingkungan dan mendirikan Pesantren (Karang Sari RT 03/RW 01/ Blok Awi), yang Pengasuh Utamanya Ajengan MUHAJI hingga wafat, dan penerusnya adalah Ajengan FAHRUROJI. Selang beberapa puluh tahun Pesantren dipindahkan ke Cikole karena tempatnya cukup Strategis.
Pada saat itu untuk memenuhi kebutuhan air, masyarakat mengambilnya dari mata air yang tanahnya milik H. SOLEH dengan diatasnya Pohon JULANG. Melihat kegiatan tersebut H. SOLEH membuat Sumur agar lebih terjaga kebersihannya. Manakala aroma Hindu masih merasuk disebagian masyarakat, Pohon JULANG (sekarang RT 06/02 Dusun Desa) dan Batu Besar di Ciloa dijadikan tempat Pemujaan apabila akan mengadakan hajatan.
Membaca realita tersebut seorang Ngabihi (Wakil Kuwu) bernama WANGSADINATA dengan gagah beraninya menebang Pohon JULANG sampai ke akar-akarnya dan menghancurkan Batu Besar berkeping-keping. Dari situlah nama Desa Cijulang berasal: Ci = Cai (Air), Julang = Pohon Julang.
Terbentuknya Desa Cijulang pada abad ke-19 (Tahun 1886) telah ada Jabatan KETIB (Kepala KUA) dijabat oleh HASAN ASYHARI dan sebagai Kuwu pada saat itu adalah MUHAMMAD HAMAMI. Kedua Tokoh tersebut sangat bersinergis dalam melaksanakan pembangunan di setiap bidang.
Jabatan Kuwu pada saat itu dipilih oleh rakyat dengan masa bakti sampai akhir hayat dan hal ini berlaku hingga masa Kuwu H. AMIR ADIWARSITA.